telephone persada hospital
whatsapp persada hospital
instagram persada hospital
youtube persada hospital
twitter persada hospital
tiktok persada hospital
facebook persada hospital
gmaps persada hospital

Aritmia: Gejala, Penyebab, Jenis, dan Cara Mengobatinya

Aritmia: Gejala, Penyebab, Jenis, dan Cara Mengobatinya

Aritmia adalah gangguan irama jantung yang membuat detak jantung tidak berdetak sebagaimana mestinya. Pada kondisi ini, jantung bisa berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan.

Meski terkadang hanya berlangsung sesaat dan tidak menimbulkan keluhan, aritmia juga dapat menjadi tanda adanya gangguan pada sistem kelistrikan jantung yang memerlukan penanganan medis.

Karena gejalanya sering dianggap sebagai keluhan biasa, seperti jantung berdebar atau mudah lelah, tidak sedikit penderita yang baru mengetahui dirinya mengalami aritmia setelah kondisinya semakin berat.

Oleh sebab itu, penting untuk memahami gejala aritmia, faktor risikonya, serta kapan kondisi ini perlu segera diperiksakan ke dokter.

Bagaimana Aritmia Memengaruhi Kerja Jantung?

Jantung bekerja dengan bantuan impuls listrik yang mengatur kapan ruang-ruang jantung berkontraksi dan memompa darah ke seluruh tubuh. Pada penderita aritmia, aliran impuls listrik tersebut mengalami gangguan sehingga irama detak jantung menjadi tidak normal.

Ketika jantung berdetak terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan, kemampuan jantung untuk memompa darah menjadi kurang optimal.

Akibatnya, organ tubuh dapat kekurangan pasokan oksigen dan nutrisi sehingga menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari pusing hingga sesak napas.

Tanda dan Gejala Aritmia yang Perlu Diwaspadai

Gejala aritmia dapat berbeda pada setiap orang. Ada yang hanya merasakan keluhan ringan, tetapi ada pula yang mengalami gejala berat hingga kehilangan kesadaran.

1. Jantung Berdebar

Salah satu gejala aritmia yang paling sering dirasakan adalah sensasi jantung berdebar atau berdetak tidak beraturan.

Sebagian orang menggambarkannya seperti jantung "meloncat", bergetar, atau berdetak sangat keras meskipun sedang tidak beraktivitas.

2. Detak Jantung Terlalu Cepat atau Terlalu Lambat

Detak jantung normal orang dewasa saat beristirahat umumnya berada di kisaran 60–100 kali per menit.

Pada aritmia, denyut jantung dapat menjadi jauh lebih cepat (takikardia) atau lebih lambat (bradikardia), sehingga tubuh tidak mendapatkan aliran darah yang optimal.

3. Pusing dan Mudah Lelah

Irama jantung yang tidak normal dapat menyebabkan suplai darah ke otak dan organ lain berkurang.

Akibatnya, penderita sering merasa pusing, lemas, cepat lelah, atau kesulitan beraktivitas seperti biasanya.

4. Sesak Napas atau Nyeri Dada

Apabila jantung tidak mampu memompa darah secara efektif, penderita dapat mengalami sesak napas, terutama saat beraktivitas.

Pada sebagian kasus, kondisi ini juga disertai rasa nyeri atau rasa tidak nyaman di dada yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

5. Pingsan

Aritmia tertentu dapat menyebabkan aliran darah ke otak menurun secara tiba-tiba sehingga penderita kehilangan kesadaran. Kondisi ini termasuk keadaan darurat medis, terutama bila terjadi berulang atau disertai nyeri dada.

Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Aritmia?

Meskipun dapat dialami siapa saja, terdapat beberapa kondisi yang membuat seseorang lebih rentan mengalami aritmia.

1. Penderita Penyakit Jantung

Kerusakan pada otot atau katup jantung dapat mengganggu sistem kelistrikan jantung sehingga meningkatkan risiko munculnya aritmia.

2. Lansia

Seiring bertambahnya usia, perubahan struktur dan fungsi jantung dapat membuat gangguan irama jantung lebih mudah terjadi. Itulah sebabnya aritmia lebih sering ditemukan pada kelompok usia lanjut.

3. Penderita Hipertensi

Tekanan darah tinggi yang berlangsung lama dapat menyebabkan jantung bekerja lebih keras. Lama-kelamaan kondisi ini dapat memengaruhi struktur jantung dan meningkatkan risiko gangguan irama.

4. Penderita Diabetes

Diabetes yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah maupun saraf, termasuk saraf yang berperan dalam mengatur kerja jantung.

5. Perokok dan Konsumsi Alkohol Berlebihan

Nikotin pada rokok dan konsumsi alkohol dalam jumlah berlebihan dapat memengaruhi aktivitas listrik jantung sehingga meningkatkan risiko terjadinya aritmia.

Jenis Aritmia yang Paling Sering Ditemukan

Apa itu aritmia jantung tidak hanya mengacu pada satu jenis penyakit. Gangguan irama jantung terdiri dari beberapa tipe yang memiliki penyebab dan tingkat keparahan berbeda.

1. Fibrilasi Atrium

Fibrilasi atrium merupakan jenis aritmia yang paling sering ditemukan.

Pada kondisi ini, serambi jantung berdetak sangat cepat dan tidak teratur sehingga meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah yang dapat menyebabkan stroke.

2. Takikardia

Takikardia adalah kondisi ketika detak jantung lebih cepat dari normal saat tubuh sedang beristirahat. Pada beberapa kasus, kondisi ini dapat menimbulkan jantung berdebar, sesak napas, hingga pusing.

3. Bradikardia

Bradikardia terjadi ketika denyut jantung lebih lambat dari normal. Bila aliran darah ke organ tubuh berkurang, penderita dapat merasa lemas, mudah lelah, bahkan pingsan.

4. Aritmia Ventrikel

Aritmia ventrikel berasal dari bilik jantung dan termasuk jenis yang perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kemampuan jantung memompa darah. Pada kondisi tertentu, aritmia ventrikel dapat berkembang menjadi henti jantung mendadak apabila tidak segera ditangani.

Bagaimana Dokter Menentukan Diagnosis Aritmia?

Dokter akan mengevaluasi riwayat kesehatan, melakukan pemeriksaan fisik, serta memilih pemeriksaan penunjang yang sesuai dengan kondisi pasien.

Beberapa pemeriksaan yang umum dilakukan meliputi:

  1. Elektrokardiografi (EKG) untuk merekam aktivitas listrik jantung.

  2. Holter monitor, yaitu alat perekam EKG yang digunakan selama 24–48 jam atau lebih.

  3. Ekokardiografi (USG jantung) untuk melihat struktur dan fungsi jantung.

  4. Tes darah bila diperlukan untuk mencari faktor penyebab, seperti gangguan elektrolit atau hormon tiroid.

  5. Pemeriksaan tambahan lainnya sesuai hasil evaluasi dokter.

Melalui pemeriksaan tersebut, dokter dapat menentukan jenis aritmia sekaligus memilih penanganan yang paling sesuai.

Kapan Aritmia Harus Segera Ditangani?

Tidak semua aritmia berbahaya, tetapi beberapa kondisi memerlukan penanganan segera untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

Segera periksakan diri apabila Anda mengalami:

  1. Jantung berdebar yang berlangsung lama atau sering kambuh.

  2. Denyut jantung terasa sangat cepat atau sangat lambat.

  3. Sesak napas yang muncul tiba-tiba.

  4. Nyeri dada yang disertai jantung berdebar.

  5. Pusing berat hingga pingsan.

Banyak orang juga bertanya, apakah aritmia jantung bisa sembuh? Jawabannya bergantung pada jenis, penyebab, dan tingkat keparahan aritmia. 

Sebagian kasus dapat dikendalikan dengan perubahan gaya hidup atau obat-obatan, sementara kondisi tertentu memerlukan tindakan medis seperti ablasi kateter atau pemasangan alat pacu jantung.

Jangan Menunggu Hingga Aritmia Menyebabkan Komplikasi

Gangguan irama jantung tidak selalu menimbulkan keluhan yang berat, tetapi bukan berarti boleh diabaikan.

Semakin cepat aritmia dikenali, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi seperti stroke, gagal jantung, maupun henti jantung mendadak. Karena itu, jangan ragu melakukan pemeriksaan apabila Anda merasakan gejala yang mengarah pada gangguan irama jantung.

Jika Anda mengalami gejala aritmia atau memiliki faktor risiko penyakit jantung, konsultasikan kondisi Anda dengan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Heart & Vascular Center Persada Hospital.

Melalui pemeriksaan yang menyeluruh dan didukung fasilitas diagnostik yang lengkap, dokter akan membantu menentukan penyebab gangguan irama jantung serta memberikan penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda.

Share :
#SehatBarengPersada