Ankle sprain atau keseleo pergelangan kaki merupakan salah satu cedera sendi yang paling sering terjadi saat beraktivitas sehari-hari atau berolahraga.
Seperti yang dijelaskan oleh Cleveland Clinic, kondisi ini terjadi ketika ligamen di sekitar pergelangan kaki meregang atau robek akibat gerakan yang tiba-tiba, sehingga menimbulkan nyeri dan gangguan mobilitas.
Banyak orang masih menganggap keseleo pergelangan kaki sebagai cedera ringan. Padahal, tanpa penanganan yang tepat, ankle sprain dapat menimbulkan masalah jangka panjang dan meningkatkan risiko cedera berulang.
Oleh karena itu, penting untuk memahami apa itu ankle sprain, gejalanya, penyebab, hingga cara penanganannya secara medis.
Ankle sprain adalah cedera yang terjadi akibat peregangan atau robekan pada ligamen pergelangan kaki.
Ligamen sendiri merupakan jaringan kuat yang berfungsi menghubungkan tulang dan menjaga stabilitas sendi.
Jadi, kondisi ini umumnya terjadi saat pergelangan kaki terpelintir secara tidak wajar, misalnya ke arah dalam atau luar.
Akibatnya, ligamen tidak mampu menahan beban dan mengalami cedera, yang kemudian menimbulkan nyeri, bengkak, hingga keterbatasan gerak.
Gejala ankle sprain dapat bervariasi tergantung tingkat keparahannya. Berikut beberapa tanda yang paling sering dialami oleh penderita keseleo pergelangan kaki.
Nyeri biasanya muncul segera setelah cedera terjadi. Intensitasnya bisa ringan hingga sangat hebat, terutama saat pergelangan kaki digunakan untuk berjalan atau menopang berat badan.
Pembengkakan merupakan respons alami tubuh terhadap cedera ligamen. Area pergelangan kaki yang mengalami ankle sprain biasanya terlihat membesar dan terasa hangat saat disentuh.
Memar dapat muncul akibat pecahnya pembuluh darah kecil di sekitar ligamen yang cedera. Warna memar bisa berubah dari kebiruan hingga kekuningan seiring proses penyembuhan.
Pada beberapa kasus, penderita kesulitan berjalan atau bahkan tidak mampu menahan beban tubuh pada kaki yang cedera, terutama pada ankle sprain dengan tingkat sedang hingga berat.
Gerakan pergelangan kaki menjadi terbatas dan terasa kaku. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas harian jika tidak segera ditangani.
Ankle sprain dapat terjadi karena berbagai faktor. Berikut beberapa penyebab yang paling umum.
Salah pijakan atau terpeleset.
Aktivitas olahraga yang terlalu berat.
Permukaan jalan yang tidak rata.
Kelemahan otot dan ligamen.
Seperti yang dipaparkan Bergman & Shuman (2025) dalam jurnal Acute Ankle Sprain, ankle sprain dibagi menjadi beberapa tingkat keparahan berdasarkan kondisi ligamennya.
Pada tingkat ini, ligamen hanya mengalami peregangan ringan. Nyeri dan pembengkakan relatif minimal, dan penderita masih bisa berjalan meski terasa tidak nyaman.
Cedera ini ditandai dengan robekan sebagian ligamen. Nyeri, pembengkakan, dan memar lebih jelas, serta pergelangan kaki terasa kurang stabil.
Pada grade 3, ligamen mengalami robekan total. Kondisi ini menyebabkan nyeri hebat, pembengkakan signifikan, dan ketidakstabilan sendi yang serius.
Jika ankle sprain tidak ditangani dengan tepat, cedera ini dapat menimbulkan dampak jangka panjang.
Ligamen yang tidak sembuh optimal berisiko menyebabkan nyeri kronis, kekakuan sendi, hingga ketidakstabilan pergelangan kaki.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko keseleo berulang dan mengganggu kualitas hidup.
Penanganan ankle sprain bertujuan untuk mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan, dan mengembalikan fungsi pergelangan kaki secara optimal.
Langkah awal yang penting adalah mengistirahatkan kaki dan menghindari aktivitas yang memperparah cedera.
Metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) membantu mengurangi pembengkakan dan nyeri pada fase awal cedera.
Penyangga atau perban elastis, seperti ankle brace, digunakan untuk memberikan stabilitas tambahan pada pergelangan kaki selama proses pemulihan.
Dokter dapat meresepkan obat pereda nyeri dan anti-inflamasi untuk membantu mengurangi rasa sakit dan peradangan.
Fisioterapi berperan penting dalam memperkuat otot, meningkatkan fleksibilitas, dan mencegah cedera berulang.
Operasi biasanya menjadi pilihan terakhir, terutama pada ankle sprain berat atau yang sering kambuh meski telah menjalani terapi konservatif.
Segera konsultasikan kondisi kamu ke dokter apabila mengalami gejala berikut:
Nyeri hebat dan tidak berkurang.
Tidak bisa berjalan sama sekali.
Pembengkakan semakin parah.
Pergelangan kaki terasa tidak stabil.
Penanganan ankle sprain yang tepat memerlukan evaluasi menyeluruh oleh tenaga medis berpengalaman.
Di Orthopaedic Center, pasien akan ditangani oleh dokter spesialis ortopedi dengan dukungan fasilitas diagnostik modern untuk menentukan tingkat keparahan cedera secara akurat.
Salah satu dokter andalan kami adalah Dr.dr. Edi Mustamsir, Sp. OT, SubSp. PL(K) yang berpengalaman dalam menangani berbagai kasus cedera dan gangguan pada sistem muskuloskeletal, termasuk keseleo pergelangan kaki.
Dengan pendekatan yang komprehensif, mulai dari terapi konservatif, fisioterapi, hingga tindakan lanjutan bila diperlukan, proses pemulihan diharapkan berjalan lebih optimal, jadwalkan konsultasi segera.