5 Cara Mencegah Skoliosis dan Ragam Penyebabnya

cara mencegah skoliosis tangani segera bersama Persada Hospital Malang

Skoliosis merupakan kelainan pada tulang belakang dimana tulang belakang melengkung secara tidak normal, biasanya dalam bentuk "S" atau "C". Skoliosis mempengaruhi 2%-4?ri populasi remaja. Pada tahun 2019, Skoliosis pada anak berusia < 16>

Laporan jumlah kasus dari SMF Orthopedi dan Traumatologi Rumah Sakit DR. Saiful Anwar, Malang, Jawa Timur kunjungan skoliosis di poliklinik antara 100-120 pasien dengan operasi antara 40-50 pasien per tahunnya.

Dengan jumlah penderita yang masif, penting bagi kita untuk mempelajari lebih lanjut mengenai apa itu Skoliosis dan cara mencegah Skoliosis sedari dini. Simak artikel cara mencegah Skoliosis dan ragam penyebabnya berikut ini.

Apa itu Skoliosis?

Berdasarkan definisi, Kata Skoliosis berasal dari bahasa Yunani Skolios yang berarti bengkok. Skoliosis adalah kelainan tulang belakang yang berupa lengkungan ke samping/ lateral. Jika dilihat dari belakang, tulang belakang pada skoliosis akan berbentuk seperti huruf “C” atau “S”

Pahami Cara Mencegah Skoliosis Supaya Tidak Bertambah Parah

Ada beberapa tindakan yang dapat membantu Anda untuk mengurangi risiko dan perkembangan skoliosis. Namun, Anda tetap bisa melakukan beberapa hal apabila merasakan postur tubuh tidak simetris, lalu disertai dengan nyeri punggung.

 Berikut adalah beberapa cara mencegah atau mengelola skoliosis:

1. Deteksi Dini

Penting untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin, terutama selama masa pertumbuhan. Sebab, skoliosis seringkali terjadi pada masa remaja. Dokter dapat memeriksa postur tubuh Anda dan melihat apakah ada tanda-tanda skoliosis. Deteksi dini Skoliosis meliputi:

  • Anamnesis 

    • Adanya nyeri dan/atau asimetris pada area bahu atau punggung 

    • Riwayat skoliosis pada keluarga 

    • Pada skoliosis dengan onset infantile dan juvenille, pemeriksaan prenatal menyeluruh yang mencakup riwayat kelahiran, riwayat pertumbuhan, dan perkembangan pasien anak perlu digali.

    • Pada kasus skoliosis diopatik remaja, riwayat kemajuan pertumbuhan seksual sekunder (seperti riwayat menarche dan membesarnya mamae yang terlihat asimetris perempuan atau perubahan suara pada laki-laki) juga perlu dicatat

    • Keluhan lain seperti sesak nafas, mudah lelah, nyeri radikulopati, kelemahan tungkai, gangguan sensibilitas tungkai.

  • Pemeriksaan Fisik 

    • Cara berjalan penderita (menilai adanya ketimpangan panjang tungkai)
    • Pergeseran lengkung tubuh dievaluasi dengan posisi pasien dalam keadaan berdiri dan sendi panggul dan sendi lutut dalam keadaan ekstensi penuh. Hubungan antara kepala sampai pelvis juga dicatat dalam mengevaluasi keseluruhan keseimbangan coronal dan sagittal. Adanya asimetris pada bahu, dada, atau pelvis juga perlu dicatat. 
    • Adam’s Forerd Bending Test 

Dilakukan rutin pada usia 10,12,14 dan 16 tahun. Merupakan suatu metode observasional untuk melihat kesimetrisan punggung. Pemeriksaan dilakukan dengan pasien membelakangi pemeriksa dan membungkuk. Penilaian dilakukan dengan membandingkan tinggi sisi kanan dan kiri tulang belakang. Jika ditemukan ada perbedaan tinggi maka dapat disimpulkan ada skoliosis.  

  • Pemeriksaan Saraf

Meliputi semua saraf kranial, kekuatan otot, refleks, dan pola jalan. 

  • Pemeriksaan Radiologi 

Jenis pemeriksaan radiologis yang direkomendasikan untuk penegakkan diagnosis skoliosis adalah foto rontgen polos (radiograf) vertebra dari servikothoraksis hingga tulang panggul dalam beberapa posisi. Pemeriksaan foto rontgen polos dilakukan untuk menilai derajat sudut kurva tulang belakang.

2. Melatih Postur Tubuh

Cara mencegah skoliosis berikutnya adalah dengan melatih postur tubuh agar tetap baik. Selalu berusaha untuk mempertahankan postur seperti saat duduk dan berdiri. 

Duduklah dengan punggung lurus, berdiri dengan berat badan merata di kedua kaki, dan tidur dengan posisi yang nyaman dan mendukung bagi tulang belakang.

Ketika duduk, Anda bisa memilih tempat yang sesuai. Kemudian pastikan kaki Anda rata di lantai atau di atas penyangga kaki. Gunakan sandaran punggung yang mendukung lengkung alami tulang belakang. Jangan duduk dengan kaki silang, karena ini dapat mengganggu postur.

Kemudian saat Anda tidur, sebaiknya pilih bantal dan kasur yang tepat. Pilih kasur yang tidak terlalu keras atau terlalu lembut sesuai preferensi Anda,. Kemudian gunakan bantal yang mendukung leher dan kepala dengan benar.

Anda bisa memanfaatkan layanan Orthopedic Spine and Pain Clinic di Persada Hospital untuk pencegahan dan perawatan Skoliosis. Penanganan yang tepat dengan dokter dan alat canggih, mampu membuat penyembuhan jadi lebih cepat.

3. Konsumsi Nutrisi

Tubuh Anda harus mendapatkan nutrisi terbaik untuk menopang kegiatan sehari-hari. Apalagi jika Anda sudah memasuki usia dewasa. Tanpa Anda sadari, tulang menjadi lebih lemah ketimbang Anda muda dulu.

Nutrisi yang baik, mampu memberikan “makanan” pada tulang dan menguatkannya. Apalagi jika Anda mengimbangi dengan suplemen kesehatan tulang. Tentu ini akan membawa dampak yang baik bagi tubuh.

Beberapa nutrisi yang baik untuk tulang antara lain susu, kedelai, bayam, telur, kacang-kacangan, pisang, hingga tahu. Tenang saja, harga untuk nutrisi yang satu ini sangat terjangkau.

Sementara untuk suplemen tulang, sebaiknya Anda berkonsultasi kepada dokter. Supaya dokter bisa meresepkan suplemen yang cocok untuk Anda minum. 

4. Olahraga Teratur 

Cara mencegah skoliosis selanjutnya adalah dengan olahraga yang teratur. Berolahraga secara teratur dapat membantu memperkuat otot-otot tubuh, termasuk otot-otot di sekitar tulang belakang. Otot yang kuat dapat membantu mendukung postur tubuh yang baik. 

Beberapa latihan yang baik untuk penderita skoliosis adalah senam, yoga, atau berenang. Senam dan yoga bisa Anda rancang khusus untuk penguatan otot dan tulang. Sementara olahraga yang sangat direkomendasikan adalah berenang. Sebab kegiatan air yang satu ini, mampu melibatkan keseluruhan otot tubuh. Postur tubuh juga mampu diperbaiki menjadi lebih fleksibel.

Namun jika Anda masih sangat berat untuk memulai olahraga tersebut, coba saja melakukan aerobik ringan dengan berjalan kaki.

Anda juga dapat mengunjungi Orthopedic Spine and Pain Clinic Persada Hospital Malang untuk mengatasi skoliosis dan merencanakan olahraga yang baik bagi Anda. Dokter dari Persada Hospital akan memberikan rekomendasi olahraga termasuk pelatih yang tepat untuk mengontrol penyembuhan Anda.

5. Hindari Duduk Terlalu Lama

Duduk dengan durasi panjang biasanya dilakukan oleh pelajar saat bersekolah dan pekerja kantoran. Hal ini dapat memengaruhi postur tulang. Maka dari itu, cara mencegah skoliosis berikutnya adalah hindari duduk terlalu lama

Apabila terpaksa harus duduk dan fokus dalam jangka waktu yang lama, sebaiknya pilih kursi yang nyaman bagi tulang belakang. Sudah banyak sekarang kursi kerja nyaman yang bisa menopang keseharian Anda.

Selain itu, biasakan untuk melakukan peregangan saat akan duduk, di sela-sela pekerjaan, hingga setelah jam bekerja atau sekolah selesai. Peregangan dapat membantu merilekskan otot yang kaku saat harus duduk dalam waktu lama.

Setidaknya selama 30 menit sampai satu jam sekali, bangunlah dari tempat duduk. Lakukan pergerakan ringan, atau pergi untuk ambil minum. Hal ini dapat membantu tulang dan otot menjadi lebih rileks. Kemudian mengurangi gejala skoliosis yang Anda alami.

Dugaan Penyebab Skoliosis

1. Penyebab Skoliosis Secara Etiologi

Untuk penyebab dari Adolescence Idiopathic Scoliosis masih belum diketahui, namun ada beberapa teori faktor resiko dari Adolescence Idiopathic Scoliosis seperti :

  • Genetik

Kemungkinan penyebab pertama ialah genetik. Banyak studi klinis yang mendukung pola pewarisan dominan autosomal, multifaktorial, atau X-linked

  • Abnormalitas anatomi tulang belakang

Lempeng epifisis pada sisi kurvatura yang cekung menerima tekanan tinggi yang abnormal sehingga mengurangi pertumbuhan, sementara pada sisi yang cembung menerima tekanan lebih sedikit, yang dapat menyebabkan pertumbuhan yang lebih cepat. Selain itu, arah rotasi vertebra selalu menuju ke sisi cembung kurvatura, sehingga menyebabkan kolumna anterior vertebra secara relatif menjadi terlalu panjang jika dibandingkan dengan elemen-elemen posterior.

  • Ketidakseimbangan dari kekuatan dan massa kelompok otot di punggung

Abnormalitas yang ditemukan ialah peningkatan serat otot tipe I pada sisi cembung dan penurunan jumlah serat otot tipe II pada sisi cekung kurvatura. Selain itu, dari pemeriksaan EMG didapatkan peningkatan aktivitas pada otot sisi cembung kurvatura.

2. Penyebab Skoliosis Secara Patogenesis

  • Genetika

Faktor genetik dapat terlibat dalam beberapa aspek spesifik skoliosis idiopatik remaja, termasuk bentuk kurva skoliosis dan risiko progresivitas sudut kurva tulang belakang. Sejumlah studi populasi telah mendokumentasikan bahwa skoliosis muncul dalam satu keluarga dan prevalensinya lebih tinggi pada saudara pasien skoliosis dibandingkan dalam populasi secara umum. Sejumlah studi telah menilai peran faktor genetik yang diturunkan dalam munculnya skoliosis idiopatik.

  • Progesivitas Sudut Skoliosis 

Pada semua kasus, perempuan memiliki risiko progresivitas sudut kurva tulang belakang 10 kali lebih besar dibandingkan laki-laki. Semakin besar potensi pertumbuhan dan besarnya sudut kurva tulang belakang, semakin besar pula kemungkinan progresivitas sudut kurva tulang belakang tersebut. Evaluasi potensi pertumbuhan dilakukan dengan penilaian berdasarkan Tanner Stage dan Risser Grade.

Tanner Stage 2-3 terjadi tepat saat mulainya percepatan pertumbuhan (Adolescence Growth Spurt) dan merupakan waktu progresivitas maksimum skoliosis idiopatik remaja. Nilai Risser Grade (0-5) memberikan estimasi seberapa besar pertumbuhan skeletal yang masih tersisa dengan menilai proses fusi tulang apofisis iliaka.

  • Patogenesis Biomekanik

Skoliosis idiopatik adalah deformitas tulang belakang yang sering terjadi, dan hampir mencapai 80% terjadi pada remaja. Manusia adalah satu-satunya makhluk hidup vertebrata yang dapat berdiri dengan postur tegak secara reguler. Oleh karena itu, postur tegak inilah yang diduga terlibat dalam perkembangan skoliosis idiopatik. Postur tegak penuh ini merubah kondisi secara signifikan, dimana gaya ditransmisikan melalui tulang belakang yang secara tidak langsung menciptakan kurva-kurva fisiologis pada tulang belakang manusia dan lebih lanjut gaya ini pula yang dapat turut bermain peran dalam berkembangnya skoliosis idiopatik.

Baca Juga: 10 Gejala Skoliosis yang Perlu Anda Sadari Sedari Dini!

Pengobatan Skoliosis Secara Komprehensif di Persada Hospital

1. Observasi

Pada tata laksana observasi, penderita AIS harus diberikan rekomendasi untuk memperbaiki posisi tubuh. Hal ini untuk mempertahankan kurva agar tidak semakin bertambah. Anak atau remaja dengan AIS harus menghindari memanggul tas/barang yang berat, terutama pada satu sisi bahu. Memperbaiki posisi tubuh saat duduk, berdiri, berbaring, atau saat mengerjakan sesuatu dilakukan secara konsisten untuk mencegah perkembangan kurva.

Olahraga yang dapat mencegah progresifitas kurva adalah berenang dan olahraga  air lainnya. Namun, perlombaan renang tidak diizinkan karena dapat menambah tekanan pada tulang belakang. Olahraga lain yang tidak dianjurkan adalah olahraga yang sering membuat gerakan ekstensi torso, misalnya   senam ritmik, balet, trampolin, dan sepak bola.

2. Tata Laksana Bracing

Penggunaan bracing merupakan perawatan nonoperatif untuk pasien dengan skeletal imatur, memiliki Cobb angle antara 25?40 derajat, atau progresivitas kurva lebih dari 5 derajat selama 6 bulan. Tujuan bracing adalah untuk mencegah progresivitas kurva, bukan untuk mengoreksi kelengkungan. Oleh karena itu, tidak diindikasikan untuk pasien yang mengalami kerusakan tulang belakang atau pasien dengan Cobb angle  >50 derajat.

Pasien dengan bracing harus dipantau kira-kira setiap 6 bulan. Penggunaan bracing direkomendasikan selama 18-23 jam per hari, hingga tercapai skeletal maturity. Ada beberapa jenis bracing, di antaranya:

  • Boston brace: thoraco-lumbo-sacral orthosis

  • Milwaukee brace: cervico-thoraco-lumbo-sacral orthosis

  • Wilmington brace: merupakan thoraco-lumbo-sacral orthosis yang dibuat khusus menyesuaikan tubuh pasien dengan cara mencetak tubuh pasien dalam posisi supinasi menggunakan gips.

  • Charleston brace: merupakan thermoplastic orthosis dan digunakan hanya selama tidur malam hari, anterior opening, dan terbuat dari bahan yang ringan. Hanya digunakan untuk kurva tunggal, dibuat khusus dengan cara mencetak tubuh pasien dalam posisi supinasi menggunakan gips.

3. Tata Laksana Pembedahan

Tujuan pembedahan adalah mencegah perkembangan kelengkungan kurva, mencapai koreksi deformitas secara maksimum dan permanen, memperbaiki penampilan, dan menjaga agar komplikasi jangka pendek maupun panjang tetap minimal. Indikasi pembedahan adalah jika Cobb angle >45 derajat untuk skeletal imatur, atau >50 derajat untuk skeletal matur. Scoliosis dengan sudut >90° yang tidak dilakukan tindakan operatif memiliki resiko terkena gangguan kardiopulmonal.

Skoliosis umumnya sudah dapat terdeteksi sedari remaja. Semakin dini ditangani, penyembuhan Skoliosis bisa semakin cepat. Persada Hospital menyediakan layanan Orthopedic Spine and Pain Clinic yang dapat mengatasi Skoliosis. Didukung dengan dokter yang kompeten, teknologi canggih, dan tim yang mumpuni, Skoliosis dapat ditangani dengan cepat dan tepat.

Kunjungi Orthopedic Spine and Pain Clinic di Persada Hospital Malang untuk pengobatan dan perawatan Skoliosis. Cek jadwal dokter orthopedi Persada Hospital untuk melakukan kunjungan konsultasi di poli orthopedi. Pelajari juga berbagai informasi kesehatan terkini melalui laman artikel Persada Hospital. Informasi selengkapnya terkait tindakan medis hubungi hotline Persada Hospital di 0811-3058-8585.

Ditinjau oleh :
dr. Andhika Yudistira, Sp.OT (K) Spine
Spesialis Orthopedi
Share :
#SehatBarengPersada