Mengenal Apa itu Manajemen Nyeri (Pain Management)?

Sahabat Persada pasti pernah mengalami nyeri pada bagian tubuh bukan? Nyeri adalah kondisi yang sangat umum terjadi. Menurut Association for Study of Pain (IASP) nyeri diartikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan terkait dengan, atau mirip dengan, kerusakan jaringan aktual atau potensial.

Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostik maupun pengobatan lain. Nyeri dapat berasal dari setiap bagian dari tubuh manusia seperti kulit, otot, ligamen, sendi, tulang (nyeri nociceptive), jaringan terluka (nyeri inflamasi), saraf (nyeri neuropatik), organ internal (nyeri viseral) atau kombinasi dari jenis rasa sakit (nyeri campuran).

Penting bagi penderita nyeri untuk mendapatkan penanganan yang tepat agar rasa nyerinya bisa berkurang dan kualitas hidupnya meningkat. Manajemen nyeri adalah cara untuk mengidentifikasi dan mengelola rasa nyeri yang disebabkan oleh kerusakan jaringan atau masalah fungsi tubuh. Tujuannya adalah mengurangi nyeri yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Manajemen nyeri dapat diberikan ketika seseorang merasakan nyeri yang cukup parah atau berlangsung lama. Hal ini dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri, memperbaiki fungsi tubuh yang sakit, dan meningkatkan kualitas hidup. Nyeri bisa diatasi dengan menggunakan pengobatan berupa obat-obatan dan juga cara-cara non-obat.

Jenis-jenis Nyeri

Ada beberapa jenis nyeri:

  1. Nyeri Akut: Nyeri dengan durasi singkat (secara relatif) berlangsung dari beberapa menit hingga sekitar tiga bulan, terjadi di area tubuh tertentu dan merupakan respons tubuh terhadap cedera fisik. Biasanya sembuh setelah mendapat perawatan. Contohnya luka sayat, memar, atau otot tertarik.
  2. Nyeri Kronis: Berlangsung lebih dari tiga bulan, bisa karena cedera atau penyakit yang tidak sembuh dengan baik. Salah satu contoh nyeri kronis adalah nyeri punggung bawah, nyeri lutut
  3. Nyeri Nociceptive: Terjadi ketika ada cedera jaringan atau inflamasi, ujung saraf akan mengirimkan rasa sakit ke otak. Contohnya seperti patah tulang atau saat tangan terluka.
  4. Nyeri Neuropatik: Disebabkan oleh masalah pada sistem saraf, menyebabkan sinyal rasa sakit yang keliru. Contohnya, nyeri akibat diabetes, trigeminal neuralgia.

 

Nyeri tersebut bisa  lebih dari sekadar rasa tidak nyaman. Nyeri bisa mempengaruhi perasaan keseluruhan Anda. Bahkan, nyeri bisa menyebabkan masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.Sehingga rasa nyeri tidak bisa disepelekan begitu saja.

Cara Menangani Nyeri Menggunakan Manajemen Nyeri  Pendekatan Farmakologi dan Nonfarmakologi

Manajemen nyeri farmakologi berarti memanajemen rasa nyeri dengan menggunakan obat-obatan pereda nyeri. Manajemen nyeri farmakologi meliputi penggunaan analgesik non-opioid, opioid, analgesik adjuvant, dan kortikosteroid:

  1. Analgesik non-opioid biasanya digunakan untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang. Analgesik non-opioid dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama: antiinflamasi nonsteroid (NSAID), asetaminofen, dan agen topikal.
  2. Analgesik opioid adalah pereda nyeri yang digunakan untuk mengatasi nyeri sedang hingga berat. Analgesik opioid dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama: opioid alami, opioid sintetik, dan opioid semi-sintetis. Akan tetapi, penggunaan opioid memerlukan perhatian khusus terkait potensi efek samping dan adiksi. 
  3. Analgesik adjuvant adalah beragam kelompok obat yang dapat digunakan dalam kombinasi dengan obat manajemen nyeri lainnya untuk meningkatkan efek analgesiknya atau untuk mengatasi jenis nyeri tertentu. Analgesik adjuvant dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori berdasarkan mekanisme kerja dan indikasi terapeutiknya yaitu kelompok antidepresan, antikonvulsan, anestesia lokal, dan kortikosteroid.
  4. Kortikosteroid adalah agen anti-inflamasi ampuh yang digunakan untuk nyeri yang berhubungan dengan peradangan. Mereka umumnya digunakan untuk nyeri yang berhubungan dengan kondisi seperti rheumatoid arthritis dan nyeri punggung.

Manajemen nyeri non-farmakologi artinya memanajemen nyeri dengan obat. Berikut cara untuk mengelola nyeri yang bisa dilakukan oleh ahli medis maupun pasien sendiri tanpa obat-obatan:

  1. Stimulasi dan pijatan pada kulit: Pijatan pada tubuh, terutama punggung, dapat membantu mengurangi nyeri dengan membuat pasien lebih rileks.
  2. Kompres dingin dan hangat: Kompres dingin mengurangi produksi prostaglandin yang bisa meningkatkan rasa nyeri, sementara kompres hangat membantu meningkatkan aliran darah dan mempercepat penyembuhan.
  3. Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS): Alat TENS dipasang di kulit dan menghasilkan sensasi kesemutan atau getaran pada area yang terasa nyeri.
  4. Distraksi: Mengalihkan fokus perhatian dari rasa nyeri dengan cara tertentu bisa membantu mengurangi gangguan akibat nyeri.
  5. Teknik relaksasi: Melakukan teknik pernapasan dalam secara teratur bisa menurunkan ketegangan otot dan meredakan nyeri.
  6. Imajinasi terbimbing: Dengan bimbingan, pasien menggunakan imajinasi positif untuk mengalihkan perhatian dari rasa nyeri.
  7. Terapi musik: Mendengarkan musik instrumental dapat memberikan ketenangan dan mengalihkan perhatian dari nyeri.

Manajemen Nyeri  dengan Interventional Pain Management (IPM)

IPM merupakan teknik manajemen nyeri minimal invasif yang lebih optimal dalam penanganan nyeri dengan risiko yang lebih kecil. Terdapat beberapa modalitas IPM misalnya radiofrekuensi (RF), blok saraf (nerve block), dan injeksi obat tertentu pada lokasi penyebab nyeri.

1. Radiofrekuensi (RF)

Radiofrekuensi merupakan proses penghantaran gelombang dengan frekuensi tinggi sekitar 50-500 kHz ke jaringan menggunakan elektroda RF yang terhubung dengan generator untuk menginduksi efek biologis untuk mengurangi nyeri. Terapi RF efektif digunakan dalam penanganan nyeri kronik. RF dibagi menjadi tiga jenis yaitu:

  •  Continuous Radiofrequency (CRF)

CRF merupakan teknik manajemen nyeri dengan penghantaran gelombang radiofrekuensi secara terus menerus ke saraf atau area saraf tertentu untuk menciptakan lesi termal (panas) pada jaringan saraf, yang dapat mengganggu sinyal rasa sakit yang ditransmisikan ke otak. CRF menggunakan suhu pada kisaran 70-90 oC.

  •  Pulsed Radiofrequency (PRF)

PRF merupakan teknik manajemen nyeri dengan penghantaran gelombang radiofrekuensi dengan pemberian jeda waktu tertentu (biasanya diberikan pada frekuensi 2 atau 4 Hz, dengan pulsed 20 atau 10 ms selama 360 detik). Hal ini memungkinkan terjadinya penurunan suhu panas sehingga tidak menyebabkan kerusakan jaringan seperti pada CRF. Suhu jaringan dijaga di bawah 42 oC. Dalam beberapa penelitian, PRF efektif dalam manajemen nyeri misalnya nyeri leher, trigeminal neuralgia, nyeri punggung, artropati facet, nyeri radikular, nyeri pinggul, nyeri myofascial, dan adhesive capsulitis.

  •  Cooled Radiofrequency (CRFA)

CRFA adalah teknik yang relatif baru, melibatkan sirkulasi air dingin melalui ujung probe untuk mempertahankan suhu yang lebih rendah pada ujung jaringan. CRFA menghasilkan lesi berbentuk bola yang lebih besar dibandingkan lesi yang dihasilkan oleh RF konvensional, sehingga meningkatkan kemungkinan ablasi jaringan saraf target. Akan tetapi, penelitian tentang CRFA masih terbatas.

2. Blok Saraf (nerve block)

Blok saraf adalah jenis manajemen nyeri yang menggunakan anestesi lokal atau obat-obatan misalnya steroid untuk memblok saraf sehingga sinyal nyeri ke otak terganggu. Ketika digunakan untuk mengatasi nyeri akibat pembedahan, blok saraf dapat mengurangi atau menghilangkan kebutuhan anestesi umum, mengurangi nyeri setelah operasi, dan mengurangi kebutuhan opioid. Blok saraf juga digunakan untuk mengatasi beberapa jenis nyeri misalnya:

  • Facet Joint Block dan Medial Block

Facet Joint Block dan Medial Block digunakan untuk mengurangi nyeri terkait tulang bekang. Injeksi anestesi lokal atau steroid dilakukan untuk mengurangi peradangan dan iritasi, yang pada akhirnya mengurangi rasa sakit.

  • Peripheral Nerve Block

Peripheral Nerve Block dilakukan untuk memblok sinyal nyeri dari perifer misalnya genicular nerve block untuk nyeri lutut, suprascapular nerve block untuk nyeri bahu, interscalene block untuk nyeri lengan atas, atau supraclavicular atau infraclavicular block untuk nyeri siku, lengan atau tangan.

  • Selective Nerve Root Block (SNRB)

SNRB merupakan injeksi blok saraf yang digunakan untuk diagnosis dan mengobati saraf tulang belakang yang meradang.  

  • Sympathetic Nerve Block

Blok simpatik banyak digunakan untuk mengobati nyeri viseral, iskemik, neuropatik, dan nyeri simpatis, serta banyak kondisi lainnya.

Manajemen Nyeri Menggunakan Multimodal Analgesia

Multimodal analgesia dilakukan dengan menggunakan kombinasi beberapa modalitas (obat-obatan analgesik atau teknik dengan intervensi non-farmakologis) untuk menarget beberapa mekanisme di sistem saraf pusat dan perifer terkait nyeri. Multimodal analgesia memungkinkan memiliki efek sinergis dan lebih efektif dalam menurunkan nyeri dibandingkan intervensi modalitas tunggal.

Keuntungan dari Manajemen Nyeri

Rencana manajemen nyeri yang komprehensif dapat membantu Anda merasa lebih baik secara fisik dan mental. Penelitian menunjukkan jika banyak orang dengan nyeri kronis menikmati kualitas hidup yang lebih baik dengan melakukan manajemen nyeri.

Beberapa manfaat manajemen nyeri di antaranya:

1. Peningkatan kualitas hidup: Manajemen nyeri yang efektif dapat membantu pasien mengalami perubahan signifikan dalam kualitas hidup mereka. Ini termasuk peningkatan rasa kesejahteraan, emosi yang lebih stabil, dan kemampuan untuk menikmati aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

2. Peningkatan mobilitas: Manajemen nyeri yang baik dapat membantu pasien meningkatkan mobilitas. Ini terutama penting bagi pasien dengan kondisi kronis yang dapat membatasi gerakan mereka, seperti osteoarthritis atau nyeri punggung bawah.

3. Reduksi risiko komplikasi: Manajemen nyeri yang tepat juga dapat membantu mengurangi risiko komplikasi. Misalnya, pasien yang mendapatkan manajemen nyeri yang baik setelah operasi cenderung mengalami lebih sedikit komplikasi pascaoperasi.

4. Minimalkan dampak pada aktivitas sehari-hari: Nyeri yang tidak terkendali dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk pekerjaan, kegiatan sosial, dan tidur. Manajemen nyeri yang efektif membantu pasien meminimalkan dampak negatif ini.

Keefektifan manajemen nyeri bergantung pada penyebab rasa sakit dan perawatan yang Anda terima. Manajemen nyeri kemungkinan besar akan efektif jika Anda sudah terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter atau dibantu oleh ahli yang kompeten.

Baca Juga: Mengenal Metode Operasi Tulang Belakang dengan Sayatan Kecil

Manajemen Nyeri di Hip and Knee Clinic Persada Hospital Malang

Nyeri pada bagian tubuh tertentu akan sangat mengganggu produktifitas. Persada Hospital memiliki layanan manajemen nyeri pada Hip and Knee Clinic. Untuk mendapatkan perawatan terbaik, Sahabat Persada dapat mengunjungi Persada Hospital yang memilik dokter profesional dan fasilitas medis modern. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter kami untuk mengetahui opsi terbaik untuk kesehatan Anda.

Kunjungi Hip and Knee Clinic untuk melakukan pengecekan lebih lanjut jika Anda merasakan ketidaknyamanan pada sendi Anda. Cek jadwal dokter Persada Hospital untuk melakukan kunjungan konsultasi di poli orthopedi. Pelajari juga berbagai informasi kesehatan terkini melalui laman artikel Persada Hospital.

Informasi selengkapnya terkait tindakan medis dan konsultasi hubungi hotline Persada Hospital di 0811-3058-8585.

Ditinjau oleh :
Dr. dr. Ristiawan Muji Laksono, Sp. An-TI., Subsp. M. N. (K)., FIPP
Spesialis Anestesiologi dan Reanimasi
Share :
#SehatBarengPersada