telephone persada hospital
whatsapp persada hospital
instagram persada hospital
youtube persada hospital
twitter persada hospital
tiktok persada hospital
facebook persada hospital
gmaps persada hospital

Stunting pada Anak: Penyebab, Ciri, dan Cara Mencegahnya

Stunting pada Anak

Stunting pada anak menjadi salah satu masalah kesehatan serius yang perlu mendapat perhatian sejak dini. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting pada anak menurun dari 21,5% pada tahun sebelumnya menjadi 19,8% pada 2024.

Meskipun terjadi penurunan, angka ini masih tergolong tinggi dan harus diwaspadai. Orang tua sebaiknya mempersiapkan diri sebelum merencanakan kehamilan agar risiko stunting pada anak dapat dicegah sejak dini. Perlu diingat, setelah masa balita, stunting tidak dapat sepenuhnya diperbaiki, namun dampaknya masih dapat diminimalkan dengan perawatan intensif.

Selain memahami cara mencegah stunting pada anak, penting juga mengetahui tahapan tumbuh kembang anak yang perlu dicermati agar si kecil tumbuh optimal.

Apa itu Stunting pada Anak?

Stunting merupakan sebuah gangguan terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak, umumnya disebabkan karena anak kekurangan gizi dalam jangka waktu yang panjang. Pada umumnya kita bisa mencegah terjadinya stunting lebih awal, apabila kita dapat mendeteksi tanda-tanda gagal tumbuh yang dapat diketahui saat pemeriksaan rutin seorang anak ke dokter setiap bulannya.

Penyebab Stunting pada Anak

Penyebab utama dari terjadinya stunting adalah anak mengalami malnutrisi atau kekurangan nutrisi secara kronis. Kondisi kronis ini bisa terjadi karena berbagai faktor, misalnya:

  1. Anak tidak mendapatkan ASI eksklusif.
  2. Ibu terserang infeksi atau mengalami malnutrisi ketika masa kehamilan.
  3. Anak menderita penyakit infeksi yang sudah kronis, misalnya cacingan dan tuberkulosis.
  4. Kualitas gizi dari makanan pendamping ASI tidak seimbang atau kurang.
  5. Terdapat penyakit yang mengganggu penyerapan nutrisi pada anak, misalnya sindrom malabsorbsi dan alergi susu sapi.

Ciri-Ciri Stunting pada Anak


Anak yang mengalami stunting dapat ditandai dengan berbagai ciri-ciri, sehingga orang tua dapat lebih waspada jika sudah mengetahuinya. Di bawah ini adalah berbagai ciri anak mengalami stunting:

  1. Postur tubuhnya pendek, jauh lebih pendek dibandingkan anak seusianya.
  2. Berat badannya juga lebih rendah dibandingkan anak seusianya.
  3. Memiliki sistem imun yang lemah sehingga mudah terkena penyakit.
  4. Mengalami kesulitan saat belajar, misalnya sulit fokus.
  5. Mengalami berbagai gangguan terhadap tumbuh kembangnya, terlebih jika berkaitan dengan aspek fisik.
  6. Terhambatnya pertumbuhan tulang, sehingga tulang akan tampak lebih pendek.
  7. Anak tidak aktif bermain.
  8. Sering merasa lemas.

Kapan Sebaiknya Mengunjungi Dokter Anak?

Sebagai orang tua, maka penting untuk melakukan pengecekan rutin terhadap tinggi badan, berat badan, dan indeks masa tubuh anak, biasanya hal ini dilakukan di posyandu. Apabila didapatkan tanda berat badan tidak naik atau naik namun tidak sesuai target kenaikan berat badan normal dan apabila ada sakit berulang yg dapat berisiko mengganggu kenaikan berat badan, maka ada baiknya segera lakukan pemeriksaan ke dokter.

Supaya anak bisa mendapatkan penanganan maksimal, maka sebaiknya Anda kunjungi poli anak di Persada Hospital.

Pengobatan Stunting pada Anak

Mungkin Anda akan bertanya apakah anak yang mengalami stunting bisa kembali normal. Jawabannya, kondisi stunting bisa diperbaiki jika belum melebihi masa balita. Namun, jika sudah melebihi 5 tahun, maka kondisi ini tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dibantu penanganannya supaya tidak menjadi semakin parah.

Di bawah ini adalah berbagai pengobatan dan penanganan yang bisa dilakukan untuk anak yang mengalami stunting:

  1. Jika anak menderita TBC, maka perlu memberikan obat anti tuberkulosis.
  2. Melakukan berbagai jenis terapi tahap awal, misalnya memberikan makanan bergizi dan bernutrisi seimbang.
  3. Memberikan suplemen yang dapat mendukung penyembuhan, misalnya zat besi, vitamin A, iodium, dan zinc.
  4. Menerapkan berbagai perilaku dan pola hidup sehat, serta tentunya penting untuk menjaga kebersihan.
  5. Jangan lupa untuk memberikan imunisasi dasar, serta tambahkan dengan imunisasi yang bisa meningkatkan imun tubuh.

Dampak Stunting pada Anak

Stunting perlu ditangani dengan tepat, seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Jika hal ini tidak ditangani, maka ada berbagai dampak jangka panjang yang dapat dialami anak, misalnya sebagai berikut:

  1. Tinggi badan anak tidak bisa bertambah sebagaimana anak normal, sehingga dapat mengganggu berbagai aktivitasnya.
  2. Mudah terkena infeksi dan akan lebih rentan terhadap berbagai macam penyakit.
  3. Dapat mengalami penyakit metabolik ketika dewasa, misalnya diabetes dan obesitas.
  4. Perkembangan otak menjadi terganggu, sehingga proses belajar tidak bisa berjalan dengan normal.

Faktor Risiko Stunting

Selain berbagai penyebab yang sudah dijelaskan sebelumnya, sebenarnya masih ada faktor risiko yang bisa meningkatkan kemungkinan anak mengalami stunting, misalnya sebagai berikut:

  1. Anak terlahir dengan berat badan yang terlalu rendah
  2. Anak terlahir prematur
  3. Memiliki penyakit anemia, TBC, atau jantung bawaan.
  4. Ditelantarkan oleh orang tua yang kurang atau tidak bertanggung jawab.

Selain itu, ada faktor risiko lain yang berkaitan dengan kondisi orang tua dan tempat tinggal keluarga, antara lain sebagai berikut:

  1. Orang tua hidup di tengah kemiskinan, sehingga standar gizi tidak bisa terpenuhi dengan baik.
  2. Ibu hamil mengalami IUGR atau Intrauterine Growth Restriction.
  3. Keluarga hidup di area yang sanitasinya tidak baik, atau tidak mendapatkan akses terhadap air bersih untuk keperluan sehari-hari.
  4. Orang tua memberikan makanan pendamping ASI yang kurang tepat atau tidak berkualitas.
  5. Orang tua mempunyai perawakan yang terbilang pendek.
  6. Berat badan ibu hamil stagnan selama masa kehamilan.
  7. Tingkat pendidikan orang tua terbilang rendah.

Diagnosis Stunting

Untuk bisa melakukan diagnosis, maka awalnya dokter akan memberikan beberapa pertanyaan kepada orang tua, misalnya terkait:

  1. Pemberian ASI serta asupan makanan lainnya
  2. Kondisi tempat tinggal
  3. Vaksinasi yang sudah dilakukan
  4. Kondisi persalinan dan kehamilan

Selain itu, dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan fisik seperti berat badan, lingkar kepala, dan tinggi badan. Jika anak berisiko mengalami stunting, maka dilakukan pemeriksaan selanjutnya meliputi:

  1. Tes darah
  2. Tes urine
  3. Pemeriksaan feses
  4. Ekokardiografi
  5. Rontgen dada
  6. Tes Mantoux

Program Pencegahan Stunting pada Anak


Ada berbagai jenis program yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya stunting, antara lain sebagai berikut:

  1. Berikan asupan gizi yang cukup untuk calon ibu sebelum memasuki masa kehamilan (sedang merencanakan) dan ketika masa kehamilan.
  2. Lakukan pemeriksaan kehamilan dengan tepat secara berkala.
  3. Berikan asupan gizi yang cukup untuk 1.000 hari pertama kehidupan buah hari, yakni sejak pembuahan pada sel telur hingga anak menginjak usia 2 tahun.
  4. Berikan ASI secara eksklusif, yakni hingga bayi usia 6 bulan.
  5. Melakukan berbagai jenis pemeriksaan rutin sesuai dengan arahan dari posyandu, supaya tumbuh kembang anak dapat terpantau dengan baik.
  6. Pastikan imunisasi anak sudah lengkap.
  7. Melakukan berbagai edukasi tentang pernikahan dan usahakan untuk mencegah pernikahan dini.
  8. Melakukan konseling gizi.

Konsultasi Stunting pada Anak di Persada Hospital Malang

Stunting pada anak tidak boleh diabaikan. Jika Anda melihat tanda seperti pertumbuhan tinggi badan yang lambat, berat badan sulit naik, atau anak sering mengalami infeksi, segera lakukan pemeriksaan di Spesialis Anak Persada Hospital Malang.

Dengan dukungan dokter spesialis anak berpengalaman serta fasilitas medis yang lengkap, evaluasi tumbuh kembang dan penanganan stunting dapat dilakukan secara menyeluruh dan tepat waktu.

Cek jadwal dokter atau hubungi kami untuk mendapatkan layanan kesehatan terbaik dari Persada Hospital Malang. Pelajari informasi kesehatan lainnya melalui laman artikel kami untuk mendapatkan pengetahuan dan tips kesehatan terbaru.

FAQ seputar Stunting pada Anak

1. Apa yang dimaksud dengan stunting pada anak?

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, atau stimulasi tumbuh kembang yang kurang optimal, sehingga tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya.

2. Apa penyebab utama stunting?

Penyebab utama stunting adalah malnutrisi jangka panjang, kurangnya ASI eksklusif, infeksi kronis seperti cacingan atau TBC, sanitasi buruk, serta gizi ibu yang tidak tercukupi selama kehamilan.

3. Apakah stunting bisa disembuhkan?

Stunting dapat diperbaiki jika ditangani sebelum anak berusia 5 tahun. Setelah masa balita, stunting tidak dapat sepenuhnya diperbaiki, namun dampaknya masih dapat diminimalkan dengan perawatan intensif.

4. Apa ciri-ciri anak yang mengalami stunting?

Tanda stunting meliputi tinggi badan pendek untuk usianya, berat badan rendah, mudah sakit, perkembangan motorik terlambat, dan kesulitan fokus saat belajar.

5. Bagaimana cara mencegah stunting sejak dini?

Pencegahan dapat dilakukan melalui pemenuhan gizi ibu hamil, ASI eksklusif hingga 6 bulan, pemberian MPASI bergizi seimbang, imunisasi lengkap, serta pemeriksaan pertumbuhan secara rutin.

6. Usia berapa stunting masih bisa diperbaiki?

Stunting paling efektif diperbaiki pada periode emas 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak janin dalam kandungan hingga anak usia 2 tahun. Setelah usia 5 tahun, perbaikan sangat sulit dilakukan.

7. Apakah anak stunting pasti memiliki IQ rendah?

Tidak selalu, tetapi kekurangan nutrisi kronis dapat mengganggu perkembangan otak sehingga meningkatkan risiko gangguan belajar dan kemampuan kognitif.


Informasi Lebih Lanjut Hubungi - 081130588585
Ditinjau oleh :
dr. Ditya Arisanti, Sp. A
Spesialis Anak
Bagikan :
#SehatBarengPersada