Stunting pada anak menjadi salah satu masalah kesehatan serius yang perlu mendapat perhatian sejak dini. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting pada anak menurun dari 21,5% pada tahun sebelumnya menjadi 19,8% pada 2024.
Meskipun terjadi penurunan, angka ini masih tergolong tinggi dan harus diwaspadai. Orang tua sebaiknya mempersiapkan diri sebelum merencanakan kehamilan agar risiko stunting pada anak dapat dicegah sejak dini. Perlu diingat, setelah masa balita, stunting tidak dapat sepenuhnya diperbaiki, namun dampaknya masih dapat diminimalkan dengan perawatan intensif.
Selain memahami cara mencegah stunting pada anak, penting juga mengetahui tahapan tumbuh kembang anak yang perlu dicermati agar si kecil tumbuh optimal.
Stunting merupakan sebuah gangguan terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak, umumnya disebabkan karena anak kekurangan gizi dalam jangka waktu yang panjang. Pada umumnya kita bisa mencegah terjadinya stunting lebih awal, apabila kita dapat mendeteksi tanda-tanda gagal tumbuh yang dapat diketahui saat pemeriksaan rutin seorang anak ke dokter setiap bulannya.
Penyebab utama dari terjadinya stunting adalah anak mengalami malnutrisi atau kekurangan nutrisi secara kronis. Kondisi kronis ini bisa terjadi karena berbagai faktor, misalnya:

Anak yang mengalami stunting dapat ditandai dengan berbagai ciri-ciri, sehingga orang tua dapat lebih waspada jika sudah mengetahuinya. Di bawah ini adalah berbagai ciri anak mengalami stunting:
Sebagai orang tua, maka penting untuk melakukan pengecekan rutin terhadap tinggi badan, berat badan, dan indeks masa tubuh anak, biasanya hal ini dilakukan di posyandu. Apabila didapatkan tanda berat badan tidak naik atau naik namun tidak sesuai target kenaikan berat badan normal dan apabila ada sakit berulang yg dapat berisiko mengganggu kenaikan berat badan, maka ada baiknya segera lakukan pemeriksaan ke dokter.
Supaya anak bisa mendapatkan penanganan maksimal, maka sebaiknya Anda kunjungi poli anak di Persada Hospital.
Mungkin Anda akan bertanya apakah anak yang mengalami stunting bisa kembali normal. Jawabannya, kondisi stunting bisa diperbaiki jika belum melebihi masa balita. Namun, jika sudah melebihi 5 tahun, maka kondisi ini tidak bisa disembuhkan, hanya bisa dibantu penanganannya supaya tidak menjadi semakin parah.
Di bawah ini adalah berbagai pengobatan dan penanganan yang bisa dilakukan untuk anak yang mengalami stunting:
Stunting perlu ditangani dengan tepat, seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Jika hal ini tidak ditangani, maka ada berbagai dampak jangka panjang yang dapat dialami anak, misalnya sebagai berikut:
Selain berbagai penyebab yang sudah dijelaskan sebelumnya, sebenarnya masih ada faktor risiko yang bisa meningkatkan kemungkinan anak mengalami stunting, misalnya sebagai berikut:
Selain itu, ada faktor risiko lain yang berkaitan dengan kondisi orang tua dan tempat tinggal keluarga, antara lain sebagai berikut:
Untuk bisa melakukan diagnosis, maka awalnya dokter akan memberikan beberapa pertanyaan kepada orang tua, misalnya terkait:
Selain itu, dokter akan melakukan berbagai pemeriksaan fisik seperti berat badan, lingkar kepala, dan tinggi badan. Jika anak berisiko mengalami stunting, maka dilakukan pemeriksaan selanjutnya meliputi:

Ada berbagai jenis program yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya stunting, antara lain sebagai berikut:
Stunting pada anak tidak boleh diabaikan. Jika Anda melihat tanda seperti pertumbuhan tinggi badan yang lambat, berat badan sulit naik, atau anak sering mengalami infeksi, segera lakukan pemeriksaan di Spesialis Anak Persada Hospital Malang.
Dengan dukungan dokter spesialis anak berpengalaman serta fasilitas medis yang lengkap, evaluasi tumbuh kembang dan penanganan stunting dapat dilakukan secara menyeluruh dan tepat waktu.
Cek jadwal dokter atau hubungi kami untuk mendapatkan layanan kesehatan terbaik dari Persada Hospital Malang. Pelajari informasi kesehatan lainnya melalui laman artikel kami untuk mendapatkan pengetahuan dan tips kesehatan terbaru.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, atau stimulasi tumbuh kembang yang kurang optimal, sehingga tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya.
Penyebab utama stunting adalah malnutrisi jangka panjang, kurangnya ASI eksklusif, infeksi kronis seperti cacingan atau TBC, sanitasi buruk, serta gizi ibu yang tidak tercukupi selama kehamilan.
Stunting dapat diperbaiki jika ditangani sebelum anak berusia 5 tahun. Setelah masa balita, stunting tidak dapat sepenuhnya diperbaiki, namun dampaknya masih dapat diminimalkan dengan perawatan intensif.
Tanda stunting meliputi tinggi badan pendek untuk usianya, berat badan rendah, mudah sakit, perkembangan motorik terlambat, dan kesulitan fokus saat belajar.
Pencegahan dapat dilakukan melalui pemenuhan gizi ibu hamil, ASI eksklusif hingga 6 bulan, pemberian MPASI bergizi seimbang, imunisasi lengkap, serta pemeriksaan pertumbuhan secara rutin.
Stunting paling efektif diperbaiki pada periode emas 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak janin dalam kandungan hingga anak usia 2 tahun. Setelah usia 5 tahun, perbaikan sangat sulit dilakukan.
Tidak selalu, tetapi kekurangan nutrisi kronis dapat mengganggu perkembangan otak sehingga meningkatkan risiko gangguan belajar dan kemampuan kognitif.