telephone persada hospital
whatsapp persada hospital
instagram persada hospital
youtube persada hospital
twitter persada hospital
tiktok persada hospital
facebook persada hospital
gmaps persada hospital

Diare mendadak pada anak, Apa Penyebabnya?

Diare mendadak pada anak, Apa Penyebabnya?

Diare pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup umum di kalangan orang tua. Meski sebagian besar kasus diare dapat membaik dalam beberapa hari, kondisi ini tetap perlu mendapat perhatian karena dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar.

Pada anak-anak, terutama bayi dan balita, dehidrasi akibat diare dapat terjadi lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami penyebab, gejala, cara penanganan, serta kapan harus segera membawa anak ke dokter.

Apa Itu Diare pada Anak?

Diare pada anak adalah kondisi ketika anak mengalami buang air besar dengan tinja yang lebih cair atau lembek dari biasanya, serta terjadi lebih sering dari frekuensi normal.

Mengutip dari National Library of Medicine (NLM) yang merujuk pada definisi WHO, diare adalah kondisi ketika seseorang buang air besar tiga kali atau lebih dalam sehari, atau lebih sering dari kondisi normal individu.

Penyebab Diare pada Anak

Berbagai kondisi dapat menyebabkan diare pada anak, mulai dari infeksi hingga gangguan pencernaan tertentu.

1. Infeksi Virus, Bakteri, atau Parasit

Infeksi merupakan penyebab diare yang paling sering terjadi pada anak. Penularan umumnya terjadi melalui makanan, minuman, tangan, atau benda yang terkontaminasi.

  • Virus, seperti rotavirus dan norovirus, merupakan penyebab tersering diare akut pada anak.

  • Bakteri, seperti Escherichia coli, Salmonella, dan Shigella, dapat menyebabkan diare yang terkadang disertai demam atau darah pada feses.

  • Parasit, seperti Giardia lamblia, dapat menyebabkan diare yang berlangsung lebih lama.

2. Efek Samping Obat

Beberapa jenis obat, terutama antibiotik, dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di dalam usus sehingga memicu diare. Kondisi ini biasanya muncul selama atau setelah penggunaan obat tertentu.

3. Alergi atau Intoleransi Makanan

Sebagian anak dapat mengalami diare akibat reaksi terhadap makanan tertentu.

Misalnya alergi protein susu sapi atau intoleransi laktosa yang menyebabkan saluran pencernaan sulit mencerna kandungan tertentu dalam makanan atau minuman.

4. Penyakit yang Mendasari

Diare yang berlangsung berulang atau dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu, seperti gangguan penyerapan nutrisi, penyakit radang usus, atau sindrom iritasi usus (Irritable Bowel Syndrome/IBS).

5. Diare Saat Bepergian (Traveller's Diarrhea)

Anak yang bepergian ke daerah dengan standar kebersihan makanan dan air yang berbeda dapat berisiko mengalami diare akibat mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, maupun parasit.

6. Keracunan Makanan

Makanan atau minuman yang terkontaminasi kuman atau zat berbahaya dapat menyebabkan diare, sering kali disertai mual, muntah, dan kram perut. Gejala biasanya muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Gejala Diare pada Anak yang Perlu Diperhatikan

Selain perubahan konsistensi feses, diare pada anak dapat disertai berbagai gejala lain.

1. Feses Cair atau Lembek Lebih dari 3 Kali Sehari

Ini merupakan tanda utama diare yang paling mudah dikenali.

2. Kram atau Nyeri Perut

Anak mungkin mengeluhkan perut terasa sakit, melilit, atau tidak nyaman sebelum buang air besar.

3. Mual dan Muntah

Infeksi saluran pencernaan sering kali menyebabkan muntah yang muncul bersamaan dengan diare.

4. Demam Ringan hingga Tinggi

Demam dapat menjadi tanda bahwa tubuh sedang melawan infeksi yang menyebabkan diare.

5. Bloating (Perut Kembung)

Diare dapat menyebabkan gangguan pada proses pencernaan sehingga gas menumpuk di dalam usus.

Akibatnya, perut anak terasa kembung, penuh, atau tidak nyaman. Pada beberapa kasus, anak juga terlihat lebih sering buang angin dan nafsu makannya menurun karena perut terasa begah.

6. Adanya Darah atau Lendir pada Feses

Munculnya darah atau lendir pada feses dapat menjadi tanda adanya infeksi bakteri, peradangan usus, atau gangguan pencernaan tertentu yang memerlukan perhatian medis lebih lanjut.

Kondisi ini tidak boleh diabaikan, terutama jika disertai demam tinggi, nyeri perut hebat, atau tanda-tanda dehidrasi.

7. Gelisah atau Cengeng

Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI, anak yang mengalami diare juga dapat menjadi lebih rewel, gelisah, atau cengeng akibat rasa tidak nyaman pada perut dan kondisi tubuh yang melemah.

Tanda-Tanda Dehidrasi

Dehidrasi merupakan komplikasi yang perlu diwaspadai saat anak mengalami diare. Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:

  1. Mulut dan bibir kering

  2. Mata tampak cekung

  3. Jarang buang air kecil

  4. Air mata berkurang saat menangis

  5. Kulit tampak kering

  6. Anak terlihat lemas atau rewel

  7. Ubun-ubun tampak cekung pada bayi

Cara Mengatasi Diare pada Anak

Dilansir dari World Health Organization (WHO), berikut panduan penanganan dan pencegahan diare pada anak berdasarkan rekomendasi kesehatan global

1. Pastikan Anak Tetap Terhidrasi

Hal paling penting saat anak mengalami diare adalah mencegah dehidrasi. Berikan cairan secara cukup dan rutin, seperti:

  • ASI untuk bayi yang masih menyusu

  • Cairan rehidrasi oral (oralit)

  • Air putih untuk anak yang lebih besar

Pemberian cairan harus dilakukan sedikit demi sedikit tetapi sering, terutama setelah setiap buang air besar.

2. Tetap Lanjutkan ASI

Untuk bayi, ASI adalah perlindungan utama terhadap diare. ASI tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan cairan, tetapi juga meningkatkan daya tahan tubuh.

Menurut rekomendasi kesehatan, bayi sebaiknya mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, lalu dilanjutkan hingga usia minimal 2 tahun.

3. Perhatikan Makanan Pendamping ASI

Saat anak mulai MPASI (usia 6 bulan ke atas), pastikan makanan yang diberikan:

  • Bergizi seimbang

  • Diolah dengan cara yang higienis

  • Dibuat dari bahan yang aman dan bersih

Kebersihan dalam proses menyiapkan makanan sangat berpengaruh dalam mencegah infeksi penyebab diare.

4. Jaga Kebersihan Air Minum

Air yang digunakan untuk minum dan memasak harus berasal dari sumber yang aman. Jika perlu, air harus:

  • Dimasak hingga mendidih

  • Difilter atau diklorinasi

  • Disimpan dalam wadah bersih dan tertutup

Kontaminasi air menjadi salah satu penyebab utama diare pada anak.

5. Biasakan Cuci Tangan Pakai Sabun

Kebiasaan sederhana ini sangat efektif untuk mencegah penyebaran kuman penyebab diare.

Biasakan mencuci tangan:

  • Setelah buang air besar atau membersihkan anak

  • Sebelum makan

  • Sebelum menyiapkan makanan

6. Buang Tinja Anak dengan Benar

Tinja anak sebaiknya dibuang ke jamban atau toilet yang layak. Kebiasaan ini membantu mencegah penyebaran bakteri di lingkungan rumah.

7. Imunisasi Campak

Imunisasi campak juga berperan dalam menurunkan risiko diare berat pada anak. Karena itu, pastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal yang dianjurkan.

8. Vaksin Rotavirus

Vaksin rotavirus merupakan salah satu imunisasi yang penting untuk membantu melindungi anak dari infeksi rotavirus, salah satu penyebab umum diare berat pada bayi dan anak.

Pemberian vaksin rotavirus sesuai jadwal dapat membantu menurunkan risiko diare berat dan dehidrasi akibat infeksi tersebut.

Makanan yang Dihindari Saat Diare pada Anak

Selama diare, beberapa jenis makanan sebaiknya dibatasi sementara karena dapat memperburuk gejala.

  1. Makanan berlemak tinggi seperti gorengan dan makanan cepat saji

  2. Makanan pedas atau berbumbu kuat

  3. Susu sapi dan produk olahannya untuk sementara waktu jika anak menjadi lebih sensitif terhadap laktosa

  4. Minuman manis, jus buah kemasan, dan soda

  5. Buah-buahan tinggi serat seperti apel mentah dan pir

  6. Permen, cokelat, kue manis, dan makanan tinggi gula lainnya

Makanan yang Aman dan Dianjurkan

Berikut beberapa makanan yang umumnya aman diberikan selama masa pemulihan:

1. Nasi Putih atau Bubur

Nasi putih dan bubur memiliki tekstur yang lembut sehingga lebih mudah dicerna oleh sistem pencernaan yang sedang sensitif.

Selain itu, makanan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan energi anak selama sakit.

2. Pisang

Pisang merupakan salah satu buah yang sering dianjurkan saat diare karena mengandung pektin, yaitu serat larut yang dapat membantu memadatkan feses.

Kandungan kalium di dalamnya juga membantu menggantikan elektrolit yang hilang akibat sering buang air besar.

3. Kentang Rebus Tanpa Mentega

Kentang rebus adalah sumber karbohidrat yang mudah dicerna dan dapat membantu menjaga asupan energi anak. Sebaiknya disajikan tanpa tambahan mentega atau bumbu yang berlebihan agar lebih ramah bagi pencernaan.

4. Roti Tawar

Roti tawar dapat menjadi pilihan makanan ringan yang cukup mengenyangkan dan mudah dicerna. Makanan ini juga dapat membantu memenuhi kebutuhan karbohidrat saat nafsu makan anak menurun.

5. Ayam Rebus Tanpa Kulit

Ayam tanpa kulit mengandung protein yang dibutuhkan tubuh untuk membantu proses pemulihan. Pilih metode pengolahan yang sederhana, seperti direbus atau dikukus, agar lebih mudah dicerna.

6. Sup Bening

Sup bening dapat membantu menjaga kecukupan cairan sekaligus memberikan nutrisi tambahan. Kuah hangat juga biasanya lebih mudah diterima oleh anak yang sedang tidak nafsu makan.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Meskipun sebagian besar kasus diare pada anak dapat membaik dengan perawatan di rumah, beberapa kondisi memerlukan pemeriksaan medis sesegera mungkin.

1. Bayi di Bawah 6 Bulan Mengalami Diare

Bayi memiliki cadangan cairan yang lebih sedikit dibandingkan anak yang lebih besar, sehingga risiko mengalami dehidrasi lebih tinggi dan perlu mendapat penanganan lebih cepat.

2. Muncul Tanda-Tanda Dehidrasi

Perhatikan gejala seperti mulut kering, mata cekung, jarang buang air kecil, menangis tanpa air mata, sering merasa haus atau bahkan tidak mau minum, serta anak tampak sangat lemas.

Kondisi ini dapat menjadi tanda dehidrasi dan memerlukan evaluasi medis segera.

3. Diare Disertai Darah atau Lendir pada Feses

Adanya darah atau lendir dapat menjadi tanda infeksi tertentu atau gangguan pencernaan yang memerlukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

4. Demam Tinggi di Atas 39°C yang Tidak Kunjung Turun

Demam tinggi yang menetap dapat mengindikasikan infeksi yang lebih serius dan perlu dievaluasi oleh dokter.

5. Anak Muntah Terus-Menerus hingga Sulit Minum

Jika anak tidak dapat minum oralit atau cairan lainnya karena muntah berulang, risiko dehidrasi akan meningkat dan perlu segera ditangani.

6. Diare Berlangsung Terlalu Lama

Segera periksakan anak jika diare berlangsung lebih dari 2 hari pada bayi atau lebih dari 3 hari pada anak yang lebih besar, terutama jika tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

7. Anak Sangat Lemas atau Tidak Responsif

Jika anak tampak mengantuk berlebihan, sulit dibangunkan, tidak mau makan atau minum, atau tidak responsif seperti biasanya, segera cari pertolongan medis karena dapat menjadi tanda kondisi yang serius.

Penanganan Diare pada Anak di Klinik Spesialis Anak Persada Hospital

Diare pada anak perlu ditangani dengan tepat untuk mencegah komplikasi seperti dehidrasi dan gangguan nutrisi. Pemeriksaan sejak dini juga penting untuk membantu mengetahui penyebab diare dan menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi anak.

Persada Hospital memiliki layanan Spesialis Anak yang ditangani oleh dokter spesialis anak berpengalaman dalam menangani berbagai kasus diare pada anak, mulai dari evaluasi penyebab, penilaian tingkat dehidrasi, hingga pemberian terapi yang sesuai.

Jika anak mengalami diare yang tidak kunjung membaik atau disertai tanda-tanda yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan ke dokter spesialis anak di Persada Hospital.

Ditinjau oleh :
dr. Laurentia Ima Monica, Sp.A, M.Biomed
Share :
#SehatBarengPersada