Diare pada anak merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup umum di kalangan orang tua. Meski sebagian besar kasus diare dapat membaik dalam beberapa hari, kondisi ini tetap perlu mendapat perhatian karena dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar.
Pada anak-anak, terutama bayi dan balita, dehidrasi akibat diare dapat terjadi lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami penyebab, gejala, cara penanganan, serta kapan harus segera membawa anak ke dokter.
Diare pada anak adalah kondisi ketika anak mengalami buang air besar dengan tinja yang lebih cair atau lembek dari biasanya, serta terjadi lebih sering dari frekuensi normal.
Mengutip dari National Library of Medicine (NLM) yang merujuk pada definisi WHO, diare adalah kondisi ketika seseorang buang air besar tiga kali atau lebih dalam sehari, atau lebih sering dari kondisi normal individu.
Berbagai kondisi dapat menyebabkan diare pada anak, mulai dari infeksi hingga gangguan pencernaan tertentu.
Infeksi merupakan penyebab diare yang paling sering terjadi pada anak. Penularan umumnya terjadi melalui makanan, minuman, tangan, atau benda yang terkontaminasi.
Virus, seperti rotavirus dan norovirus, merupakan penyebab tersering diare akut pada anak.
Bakteri, seperti Escherichia coli, Salmonella, dan Shigella, dapat menyebabkan diare yang terkadang disertai demam atau darah pada feses.
Parasit, seperti Giardia lamblia, dapat menyebabkan diare yang berlangsung lebih lama.
Beberapa jenis obat, terutama antibiotik, dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di dalam usus sehingga memicu diare. Kondisi ini biasanya muncul selama atau setelah penggunaan obat tertentu.
Sebagian anak dapat mengalami diare akibat reaksi terhadap makanan tertentu.
Misalnya alergi protein susu sapi atau intoleransi laktosa yang menyebabkan saluran pencernaan sulit mencerna kandungan tertentu dalam makanan atau minuman.
Diare yang berlangsung berulang atau dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu, seperti gangguan penyerapan nutrisi, penyakit radang usus, atau sindrom iritasi usus (Irritable Bowel Syndrome/IBS).
Anak yang bepergian ke daerah dengan standar kebersihan makanan dan air yang berbeda dapat berisiko mengalami diare akibat mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri, virus, maupun parasit.
Makanan atau minuman yang terkontaminasi kuman atau zat berbahaya dapat menyebabkan diare, sering kali disertai mual, muntah, dan kram perut. Gejala biasanya muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Selain perubahan konsistensi feses, diare pada anak dapat disertai berbagai gejala lain.
Ini merupakan tanda utama diare yang paling mudah dikenali.
Anak mungkin mengeluhkan perut terasa sakit, melilit, atau tidak nyaman sebelum buang air besar.
Infeksi saluran pencernaan sering kali menyebabkan muntah yang muncul bersamaan dengan diare.
Demam dapat menjadi tanda bahwa tubuh sedang melawan infeksi yang menyebabkan diare.
Diare dapat menyebabkan gangguan pada proses pencernaan sehingga gas menumpuk di dalam usus.
Akibatnya, perut anak terasa kembung, penuh, atau tidak nyaman. Pada beberapa kasus, anak juga terlihat lebih sering buang angin dan nafsu makannya menurun karena perut terasa begah.
Munculnya darah atau lendir pada feses dapat menjadi tanda adanya infeksi bakteri, peradangan usus, atau gangguan pencernaan tertentu yang memerlukan perhatian medis lebih lanjut.
Kondisi ini tidak boleh diabaikan, terutama jika disertai demam tinggi, nyeri perut hebat, atau tanda-tanda dehidrasi.
Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI, anak yang mengalami diare juga dapat menjadi lebih rewel, gelisah, atau cengeng akibat rasa tidak nyaman pada perut dan kondisi tubuh yang melemah.
Dehidrasi merupakan komplikasi yang perlu diwaspadai saat anak mengalami diare. Beberapa tanda yang dapat muncul antara lain:
Mulut dan bibir kering
Mata tampak cekung
Jarang buang air kecil
Air mata berkurang saat menangis
Kulit tampak kering
Anak terlihat lemas atau rewel
Ubun-ubun tampak cekung pada bayi
Dilansir dari World Health Organization (WHO), berikut panduan penanganan dan pencegahan diare pada anak berdasarkan rekomendasi kesehatan global
Hal paling penting saat anak mengalami diare adalah mencegah dehidrasi. Berikan cairan secara cukup dan rutin, seperti:
ASI untuk bayi yang masih menyusu
Cairan rehidrasi oral (oralit)
Air putih untuk anak yang lebih besar
Pemberian cairan harus dilakukan sedikit demi sedikit tetapi sering, terutama setelah setiap buang air besar.
Untuk bayi, ASI adalah perlindungan utama terhadap diare. ASI tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan cairan, tetapi juga meningkatkan daya tahan tubuh.
Menurut rekomendasi kesehatan, bayi sebaiknya mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, lalu dilanjutkan hingga usia minimal 2 tahun.
Saat anak mulai MPASI (usia 6 bulan ke atas), pastikan makanan yang diberikan:
Bergizi seimbang
Diolah dengan cara yang higienis
Dibuat dari bahan yang aman dan bersih
Kebersihan dalam proses menyiapkan makanan sangat berpengaruh dalam mencegah infeksi penyebab diare.
Air yang digunakan untuk minum dan memasak harus berasal dari sumber yang aman. Jika perlu, air harus:
Dimasak hingga mendidih
Difilter atau diklorinasi
Disimpan dalam wadah bersih dan tertutup
Kontaminasi air menjadi salah satu penyebab utama diare pada anak.
Kebiasaan sederhana ini sangat efektif untuk mencegah penyebaran kuman penyebab diare.
Biasakan mencuci tangan:
Setelah buang air besar atau membersihkan anak
Sebelum makan
Sebelum menyiapkan makanan
Tinja anak sebaiknya dibuang ke jamban atau toilet yang layak. Kebiasaan ini membantu mencegah penyebaran bakteri di lingkungan rumah.
Imunisasi campak juga berperan dalam menurunkan risiko diare berat pada anak. Karena itu, pastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal yang dianjurkan.
Vaksin rotavirus merupakan salah satu imunisasi yang penting untuk membantu melindungi anak dari infeksi rotavirus, salah satu penyebab umum diare berat pada bayi dan anak.
Pemberian vaksin rotavirus sesuai jadwal dapat membantu menurunkan risiko diare berat dan dehidrasi akibat infeksi tersebut.
Selama diare, beberapa jenis makanan sebaiknya dibatasi sementara karena dapat memperburuk gejala.
Makanan berlemak tinggi seperti gorengan dan makanan cepat saji
Makanan pedas atau berbumbu kuat
Susu sapi dan produk olahannya untuk sementara waktu jika anak menjadi lebih sensitif terhadap laktosa
Minuman manis, jus buah kemasan, dan soda
Buah-buahan tinggi serat seperti apel mentah dan pir
Permen, cokelat, kue manis, dan makanan tinggi gula lainnya
Berikut beberapa makanan yang umumnya aman diberikan selama masa pemulihan:
Nasi putih dan bubur memiliki tekstur yang lembut sehingga lebih mudah dicerna oleh sistem pencernaan yang sedang sensitif.
Selain itu, makanan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan energi anak selama sakit.
Pisang merupakan salah satu buah yang sering dianjurkan saat diare karena mengandung pektin, yaitu serat larut yang dapat membantu memadatkan feses.
Kandungan kalium di dalamnya juga membantu menggantikan elektrolit yang hilang akibat sering buang air besar.
Kentang rebus adalah sumber karbohidrat yang mudah dicerna dan dapat membantu menjaga asupan energi anak. Sebaiknya disajikan tanpa tambahan mentega atau bumbu yang berlebihan agar lebih ramah bagi pencernaan.
Roti tawar dapat menjadi pilihan makanan ringan yang cukup mengenyangkan dan mudah dicerna. Makanan ini juga dapat membantu memenuhi kebutuhan karbohidrat saat nafsu makan anak menurun.
Ayam tanpa kulit mengandung protein yang dibutuhkan tubuh untuk membantu proses pemulihan. Pilih metode pengolahan yang sederhana, seperti direbus atau dikukus, agar lebih mudah dicerna.
Sup bening dapat membantu menjaga kecukupan cairan sekaligus memberikan nutrisi tambahan. Kuah hangat juga biasanya lebih mudah diterima oleh anak yang sedang tidak nafsu makan.
Meskipun sebagian besar kasus diare pada anak dapat membaik dengan perawatan di rumah, beberapa kondisi memerlukan pemeriksaan medis sesegera mungkin.
Bayi memiliki cadangan cairan yang lebih sedikit dibandingkan anak yang lebih besar, sehingga risiko mengalami dehidrasi lebih tinggi dan perlu mendapat penanganan lebih cepat.
Perhatikan gejala seperti mulut kering, mata cekung, jarang buang air kecil, menangis tanpa air mata, sering merasa haus atau bahkan tidak mau minum, serta anak tampak sangat lemas.
Kondisi ini dapat menjadi tanda dehidrasi dan memerlukan evaluasi medis segera.
Adanya darah atau lendir dapat menjadi tanda infeksi tertentu atau gangguan pencernaan yang memerlukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Demam tinggi yang menetap dapat mengindikasikan infeksi yang lebih serius dan perlu dievaluasi oleh dokter.
Jika anak tidak dapat minum oralit atau cairan lainnya karena muntah berulang, risiko dehidrasi akan meningkat dan perlu segera ditangani.
Segera periksakan anak jika diare berlangsung lebih dari 2 hari pada bayi atau lebih dari 3 hari pada anak yang lebih besar, terutama jika tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Jika anak tampak mengantuk berlebihan, sulit dibangunkan, tidak mau makan atau minum, atau tidak responsif seperti biasanya, segera cari pertolongan medis karena dapat menjadi tanda kondisi yang serius.
Diare pada anak perlu ditangani dengan tepat untuk mencegah komplikasi seperti dehidrasi dan gangguan nutrisi. Pemeriksaan sejak dini juga penting untuk membantu mengetahui penyebab diare dan menentukan penanganan yang sesuai dengan kondisi anak.
Persada Hospital memiliki layanan Spesialis Anak yang ditangani oleh dokter spesialis anak berpengalaman dalam menangani berbagai kasus diare pada anak, mulai dari evaluasi penyebab, penilaian tingkat dehidrasi, hingga pemberian terapi yang sesuai.
Jika anak mengalami diare yang tidak kunjung membaik atau disertai tanda-tanda yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan ke dokter spesialis anak di Persada Hospital.