Menyelesaikan maraton merupakan pencapaian yang membanggakan bagi setiap pelari. Namun, setelah melewati puluhan kilometer, tidak sedikit pelari yang mengalami berbagai keluhan, salah satunya adalah nyeri punggung.
Kondisi ini dapat muncul akibat beban berulang selama berlari maupun kelelahan otot yang menopang tulang belakang.
Pada sebagian kasus, nyeri punggung akan membaik setelah tubuh beristirahat. Namun, apabila keluhan berlangsung lama atau disertai gejala lain, kondisi ini perlu mendapatkan perhatian agar tidak mengganggu aktivitas maupun latihan berikutnya.
Berlari dalam jarak jauh memberikan tekanan yang besar pada otot, sendi, dan tulang belakang. Beberapa faktor berikut dapat menyebabkan nyeri punggung setelah maraton.
Setiap langkah saat berlari memberikan tekanan pada tulang belakang dan jaringan di sekitarnya. Ketika dilakukan dalam waktu lama, tekanan berulang ini dapat memicu ketegangan otot dan rasa nyeri pada punggung.
Otot inti (core) berfungsi menjaga stabilitas tubuh selama berlari. Ketika otot ini mulai lelah, beban kerja akan lebih banyak ditopang oleh otot punggung sehingga meningkatkan risiko nyeri.
Postur tubuh yang kurang baik, seperti tubuh terlalu membungkuk atau posisi panggul yang tidak stabil saat berlari, dapat memberikan tekanan berlebih pada punggung bawah.
Teknik lari yang kurang efisien, seperti langkah yang terlalu panjang (overstriding) atau posisi tubuh yang kurang seimbang, dapat meningkatkan beban pada tulang belakang dan memicu nyeri setelah maraton.
Nyeri punggung setelah maraton dapat muncul dengan tingkat keparahan yang berbeda. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:
Keluhan paling umum berupa rasa pegal, kaku, atau nyeri pada area punggung bawah yang muncul setelah berlari atau saat bergerak.
Apabila nyeri menjalar dari punggung hingga bokong atau tungkai, kondisi ini dapat mengindikasikan adanya iritasi pada saraf dan sebaiknya diperiksakan lebih lanjut.
Rasa kesemutan maupun mati rasa pada kaki bukan merupakan keluhan yang normal setelah olahraga dan memerlukan evaluasi medis.
Jika kaki terasa lemah atau sulit digerakkan setelah muncul nyeri punggung, segera lakukan pemeriksaan karena kondisi ini dapat menandakan gangguan pada saraf.
Penanganan yang tepat dapat membantu mempercepat pemulihan dan mencegah keluhan menjadi lebih berat.
Berikan waktu bagi tubuh untuk pulih dengan mengurangi aktivitas berat selama beberapa hari. Hindari memaksakan diri untuk kembali berlari apabila nyeri masih terasa.
Lakukan peregangan ringan pada otot punggung, pinggul, dan hamstring setelah nyeri mulai berkurang. Peregangan membantu mengurangi ketegangan otot sekaligus meningkatkan fleksibilitas.
Apabila nyeri tidak kunjung membaik atau sering kambuh, dokter dapat merekomendasikan fisioterapi, terapi latihan, atau penanganan lain sesuai penyebab nyeri.
Mencegah cedera jauh lebih baik dibandingkan mengobatinya. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko nyeri punggung.
Latihan penguatan otot perut, punggung, dan pinggul membantu menjaga stabilitas tubuh selama berlari sehingga beban pada tulang belakang dapat berkurang.
Pastikan posisi tubuh tetap tegak, langkah tetap efisien, dan hindari teknik lari yang memberikan tekanan berlebihan pada punggung.
Tingkatkan jarak maupun intensitas latihan secara bertahap agar tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi dan risiko cedera dapat diminimalkan.
Nyeri punggung ringan biasanya akan membaik setelah istirahat dan pemulihan yang cukup. Namun, apabila nyeri berlangsung lebih dari beberapa hari, semakin berat, menjalar ke kaki, atau disertai kesemutan maupun kelemahan otot, sebaiknya segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Orthopaedic Center Persada Hospital menyediakan layanan konsultasi, pemeriksaan, dan penanganan gangguan pada tulang, sendi, otot, serta cedera olahraga sesuai kebutuhan pasien.
Jadwalkan konsultasi untuk mendapatkan informasi layanan atau membuat janji konsultasi agar Anda dapat kembali beraktivitas dan berolahraga dengan nyaman.