Pembengkakan payudara adalah kondisi medis yang bisa menimbulkan rasa tidak nyaman dan nyeri. Pada sebagian kasus, pembengkakan payudara merupakan hal yang normal dan berkaitan dengan perubahan hormon. Namun, ada juga kondisi tertentu yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter.
Pembengkakan payudara, yang sering kali mengarah pada mastitis, adalah kondisi peradangan pada jaringan payudara yang dapat memicu infeksi bakteri. Peradangan ini menyebabkan payudara menjadi bengkak, keras, kemerahan, dan terasa sakit.
Terjadinya pembengkakan dapat dipicu oleh beberapa faktor, mulai dari masalah aliran ASI hingga infeksi. Berikut adalah beberapa penyebab utamanya:
Mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara yang ditandai dengan bengkak, kemerahan, rasa panas, dan demam. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh penumpukan ASI di dalam payudara.
Saluran ASI yang tersumbat (blocked duct) terjadi ketika ASI tidak mengalir dengan lancar sehingga menyebabkan penumpukan. Produksi susu yang berlebihan (hyperlactation) dapat membuat saluran susu menyempit karena jaringan di sekitarnya memberikan tekanan berlebih pada saluran tersebut.
Peradangan payudara yang tidak tertangani dengan baik dapat berkembang menjadi mastitis bakterialis. Hal ini terjadi ketika infeksi muncul akibat peradangan yang dibiarkan menumpuk di dalam saluran ASI.
Fluktuasi hormon seperti estrogen dan progesteron selama siklus menstruasi, masa kehamilan, ataupun fase menopause sering kali menjadi penyebab terjadinya pembengkakan.
Selain faktor menyusui, pembengkakan kelenjar payudara juga bisa dipicu oleh berbagai hal lain. Penyebab ini meliputi:
Trauma, cedera, atau benturan pada area payudara.
Kerusakan pada puting, misalnya akibat kondisi kulit seperti eksim atau tindikan.
Merokok, karena racun pada tembakau dapat merusak jaringan payudara.
Memiliki implan payudara..
Sistem kekebalan tubuh yang melemah akibat kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes.
Mencukur atau mencabut bulu di sekitar area puting.
Gejala dari kondisi ini sering kali muncul dengan cepat dan umumnya hanya memengaruhi satu payudara. Berikut adalah gejala yang perlu Anda waspadai:
Anda mungkin akan merasakan nyeri payudara (mastalgia) atau sensasi terbakar yang bisa terasa terus-menerus, atau hanya memburuk ketika sedang menyusui bayi Anda.
Area payudara yang bengkak mungkin terasa panas dan menyakitkan saat disentuh. Tanda atau bercak kemerahan juga kerap muncul di permukaan kulit payudara.
Payudara dapat mengalami pembengkakan yang sangat penuh, keras, dan tegang (engorged).
Jika terjadi infeksi, kondisi ini sering kali disertai dengan gejala menyerupai flu, seperti rasa lelah, pegal-pegal, menggigil, dan demam tinggi.
Anda mungkin meraba benjolan berbentuk seperti baji (wedge-shaped) atau area yang terasa lebih keras pada payudara. Meski sering berkaitan dengan peradangan, benjolan juga bisa menandakan adanya tumor ganas (kanker payudara), sehingga sebaiknya diperiksakan bila tidak kunjung membaik.
Membiarkan peradangan tanpa perawatan yang tepat dapat memicu komplikasi lebih lanjut, di antaranya:
Abses (penumpukan nanah): Infeksi payudara yang dibiarkan tanpa pengobatan dapat memicu terbentuknya abses payudara, yaitu penumpukan cairan yang memerlukan tindakan bedah minor atau drainase jarum oleh dokter untuk mengeluarkan nanahnya.
Infeksi yang semakin parah: Kondisi peradangan dapat berkembang menjadi infeksi bakteri yang membutuhkan penanganan antibiotik.
Nyeri berkepanjangan: Peradangan yang tidak teratasi menyebabkan rasa sakit dan rasa tidak nyaman yang menetap.
Gangguan proses menyusui: Pembengkakan membuat saluran ASI tertekan sehingga ASI lebih sulit keluar dan menghambat proses laktasi.
Keterlambatan diagnosis: Benjolan pada payudara sering kali dianggap sebagai bagian dari peradangan, terutama bila tidak menimbulkan nyeri. Padahal, dalam beberapa kasus benjolan dapat merupakan tumor ganas (kanker payudara).
Oleh karena itu, benjolan yang menetap atau tidak membaik perlu dievaluasi lebih lanjut melalui pemeriksaan seperti USG atau biopsi. Perlu diingat bahwa kanker payudara juga dapat terjadi pada wanita yang sedang menyusui.
Penanganan utama berfokus pada upaya mengurangi peradangan, meredakan nyeri, dan mencegah terjadinya infeksi.
Bagi ibu menyusui, disarankan untuk menyusui bayi Anda sesering mungkin (setiap 1-3 jam) dan membiarkan mereka menyusu selama yang mereka inginkan. Jika menyusui terasa terlalu menyakitkan, Anda bisa memerah ASI dengan tangan secukupnya agar payudara tidak terlalu penuh.
Menggunakan handuk hangat sebelum menyusui dapat membantu membuka saluran sehingga ASI mengalir lebih lancar. Di sisi lain, Anda juga sangat disarankan untuk mengaplikasikan kompres dingin (seperti kain yang direndam air dingin atau es yang dibalut kain) pada payudara yang sakit untuk meredakan nyeri dan mengurangi pembengkakan.
Beristirahatlah yang cukup untuk membantu tubuh Anda memulihkan diri dari peradangan atau infeksi.
Untuk mengelola rasa sakit, demam, dan peradangan, Anda dapat mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti paracetamol atau ibuprofen.
Jika langkah perawatan mandiri tidak membantu dan diduga kuat terjadi infeksi bakteri, dokter akan meresepkan antibiotik untuk membasmi infeksi di dalam saluran ASI.
Apabila komplikasi berupa abses (penumpukan nanah) sudah terbentuk, dokter perlu melakukan tindakan pembedahan atau penyedotan dengan jarum untuk membersihkan nanah tersebut.
Segera hubungi tenaga medis profesional jika Anda mengalami kondisi berikut:
Jika Anda mengalami demam tinggi, menggigil, atau gejala tidak membaik 12 hingga 24 jam setelah melakukan perawatan mandiri di rumah.
Jika nyeri pada payudara terasa sangat hebat atau pembengkakan semakin memburuk meskipun Anda sudah minum obat.
Segera periksakan diri jika Anda melihat adanya cairan (discharge) yang keluar dari puting, terutama jika berwarna putih atau mengandung bercak darah.
Jika benjolan di payudara tidak juga hilang setelah 1 hingga 3 hari penanganan mandiri.
Jika Anda tidak sedang menyusui namun mengalami gejala mastitis, Anda sangat disarankan untuk segera menemui dokter agar penyebab pastinya dapat dievaluasi.
Kulit payudara yang terlihat bertekstur kasar, berpori besar, menebal, atau menyerupai kulit jeruk dapat menjadi tanda adanya gangguan pada jaringan payudara.
Anda dapat menerapkan prinsip 3 Jaga 1 Waspada sebagai langkah untuk menjaga kesehatan payudara.
Menjaga stamina merupakan salah satu cara penting dalam pencegahan kanker payudara. Tubuh yang sehat dan bugar cenderung memiliki sistem imun yang lebih baik untuk melawan berbagai penyakit.
Beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan antara lain berolahraga secara teratur minimal 30 menit setiap hari, tidur cukup selama 6–8 jam setiap malam, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya akan sayur dan buah.
Bahan karsinogenik adalah zat yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker. Dalam kehidupan sehari-hari, paparan zat ini dapat berasal dari berbagai sumber yang sering kali tidak disadari.
Beberapa contohnya adalah radiasi berlebihan, paparan sinar matahari yang terlalu terik, polusi industri, asap kendaraan bermotor, serta asap rokok. Oleh karena itu, penting untuk mengurangi paparan terhadap faktor-faktor tersebut sebisa mungkin.
Selain faktor lingkungan, pola makan dan paparan bahan kimia tertentu juga dapat memengaruhi risiko kanker. Karena itu, penting untuk lebih selektif dalam memilih makanan dan produk yang digunakan sehari-hari.
Batasi paparan insektisida dan bahan kimia berbahaya lainnya. Selain itu, kurangi konsumsi makanan yang mengandung bahan pengawet berlebihan, makanan tinggi lemak, makanan yang terlalu asin, serta makanan yang dibakar hingga gosong.
Stres memang tidak secara langsung menyebabkan kanker payudara. Namun, stres yang berlangsung dalam waktu lama dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan mendorong munculnya kebiasaan hidup yang kurang sehat, seperti kurang tidur, jarang berolahraga, atau pola makan yang tidak terkontrol.
Karena itu, penting untuk mengenali dan mengelola stres dengan baik. Anda dapat melakukannya dengan berolahraga, menjalani hobi yang disukai, meluangkan waktu bersama keluarga, beribadah, atau melakukan aktivitas relaksasi lainnya.
Dengan menerapkan prinsip 3 Jaga 1 Waspada secara konsisten, risiko kanker payudara dapat ditekan sekaligus membantu menjaga kualitas hidup dan kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Setiap keluhan dan perubahan pada payudara, sekecil apa pun, sebaiknya segera dievaluasi oleh tenaga medis yang kompeten. Persada Hospital menyediakan layanan pemeriksaan komprehensif untuk berbagai keluhan payudara Anda.
Untuk mendapatkan penanganan terkait benjolan payudara, pembengkakan payudara, perubahan bentuk abnormal, Anda dapat berkonsultasi dengan dr. Feri Nugroho, Sp.B (K) Onk.
Apabila Anda memerlukan evaluasi lebih lanjut terkait benjolan, abses, atau kecurigaan tumor, layanan terbaik kami juga tersedia di Klinik Spesialis Bedah Konsultan Onkologi untuk diagnosis yang tepat dan penanganan yang menyeluruh. Jangan tunda kesehatan Anda, jadwalkan konsultasi sekarang juga!